KesehatanKutai Timur

Kejar Target Eliminasi 2030, Dinkes Kutim Perkuat Sinergi Lintas Sektor Kendalikan HIV, TB, dan Malaria

Korsa.id, Sangatta – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur (Dinkes Kutim) memperkuat jejaring kemitraan lintas sektor guna mengejar sasaran nasional eliminasi HIV/AIDS, tuberkulosis (TB), dan malaria pada tahun 2030.

Langkah ini ditegaskan dalam Forum Kemitraan Penanggulangan AIDS-Tuberkulosis-Malaria (ATM) yang berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kutim, Kamis (6/8/2026).

Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, menegaskan bahwa pencapaian sasaran eliminasi 2030 di Kutai Timur memiliki tantangan tersendiri.

Karakteristik wilayah yang luas serta mobilitas penduduk yang tinggi menuntut penanganan yang tidak bisa lagi dipikul oleh sektor kesehatan semata.

“Target eliminasi tahun 2030 membutuhkan usaha keras dan kerja cerdas dari kita semua. Dengan kondisi wilayah Kutai Timur yang luas dan mobilitas masyarakat yang tinggi, tentu ini menjadi tantangan yang tidak bisa diselesaikan oleh sektor kesehatan sendiri. Karena itu, keterlibatan seluruh pihak menjadi kunci keberhasilan,” ujar dr Yuwana.

Baca juga :Ā Deteksi Dini TB MDR, dr Didit Minta Segera Periksakan Diri Jika Ada Keluhan Pernapasan

Ia memaparkan bahwa untuk program HIV/AIDS, Indonesia menargetkan capaian 95-95-95. Sementara pada program TB, target insiden diturunkan menjadi 65 kasus per 100 ribu penduduk.

Untuk malaria, sasaran dititikberatkan pada penekanan penularan setempat serta penjagaan Annual Parasite Incidence (API) di bawah satu kasus per 1.000 penduduk.

Guna mencapai target tersebut, Dinkes Kutim mendorong peran aktif berbagai perangkat daerah, mulai dari Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja, DPMPDes, pemerintah kecamatan, hingga organisasi masyarakat dan kader di tingkat desa.

“Forum ini bukan sekadar ruang koordinasi, tetapi wadah membangun komitmen bersama. Kita ingin seluruh masyarakat dapat mengakses pelayanan HIV, TB, dan malaria secara adil, sekaligus memastikan tidak ada pasien yang terlambat ditemukan atau terputus pengobatannya,” tegasnya.

Ā Baca juga :Ā Kepala Dinkes Kutim Harap Renja Fokus Permasalahan Kesehatan

Dukungan terhadap langkah Dinkes Kutim juga disuarakan oleh Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kutim yang juga Ketua TP PKK Kutim, Hj Siti Robiah. Ia mengingatkan bahwa ketiga penyakit menular ini merupakan ancaman nyata yang membutuhkan kesadaran masyarakat untuk deteksi dini.

“Tiga penyakit ini sangat mudah menular dan dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan baik. Karena itu masyarakat jangan takut memeriksakan diri. Semakin cepat diketahui, semakin cepat ditangani dan peluang sembuhnya juga semakin besar,” kata Siti Robiah.

Secara khusus, ia menyoroti penanganan tuberkulosis yang memerlukan kedisiplinan tinggi. Ia mengimbau pasien TB untuk tidak menghentikan konsumsi obat secara sepihak meskipun tubuh terasa sudah membaik.

Baca juga :Ā Novel : Peraturan ini Edukasi Penanggulangan infeksi HIV/AIDS

“Bagi pasien TB, jangan berhenti minum obat meskipun badan sudah terasa sehat. Pengobatan harus dijalani sampai enam bulan sesuai petunjuk tenaga kesehatan karena bakterinya berkembang sangat lambat. Kalau pengobatan dihentikan di tengah jalan, penyakit bisa kambuh lagi bahkan kumannya bisa menjadi kebal terhadap obat,” jelasnya.

Siti Robiah menutup dengan mengimbau seluruh keluarga pasien agar tidak memberikan stigma negatif atau mengucilkan penderita. Sebaliknya, peran pendampingan dari keluarga dinilai menjadi kunci utama keberhasilan kesembuhan pasien sekaligus memutus mata rantai penularan di lingkungan sekitar. (Ek/As-Adv)

Baca Juga

Back to top button