Mulyono Minta Realisasi Penurunan ATS di Kutim usai 83 Guru Ikuti Bimtek
Korsa.id, Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) terus mengintensifkan langkah nyata untuk menuntaskan persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS).
Strategi penanganan ini berfokus pada validasi data berbasis desa serta penguatan jalur pendidikan formal maupun nonformal.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan pentingnya aksi konkret pasca-sosialisasi agar penurunan angka ATS di Kutai Timur dapat terealisasi secara terukur dan tepat sasaran.
Hal tersebut disampaikannya saat menutup kegiatan Bimbingan Teknis Sosialisasi dan Advokasi Penanganan ATS di Ballroom Hotel Five Styles Kutai Permai.
Agenda ini diikuti sebanyak 83 guru dari 9 kecamatan, meliputi Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Teluk Pandan, Rantau Pulung, Kaubun, Kaliorang, Sangkulirang, Bengalon, hingga Karangan.
Baca juga :Ā Kutim Luncurkan Program Cap Jempol untuk Jemput Anak Putus Sekolah Hingga ke Pelosok
Mulyono menjelaskan, kunci utama keberhasilan program ini terletak pada akurasi data di tingkat desa. Dengan melibatkan operator desa dan pamong belajar, data riil anak yang tidak sekolah akan diverifikasi ulang, diinput ke dalam sistem, dan langsung ditindaklanjuti.
“Bapak dan ibu di desa tentu lebih paham dan tahu persis kondisi warganya. Dengan melibatkan operator desa, validasi ini bisa lebih maksimal sehingga data ATS bisa turun sesuai kondisi riil,” ujar Mulyono.
Dalam skema penanganannya, Disdikbud Kutim menyiapkan dua jalur utama. Anak-anak yang masih memenuhi kriteria usia sekolah akan didorong untuk kembali mengecap pendidikan formal.
Sementara bagi mereka yang telah melewati batas usia sekolah, pemerintah menyiapkan fasilitas pendidikan nonformal melalui program kesetaraan.
Baca juga :Ā Bupati Kutim Tegaskan Komitmen Pendidikan: āTidak Boleh Ada Anak yang Tidak Sekolah!ā
Mulyono menekankan bahwa legalitas pendidikan nonformal seperti Paket C memiliki kedudukan setara dengan pendidikan formal, sehingga ijazahnya sah digunakan untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Ia memaparkan bukti nyata keberhasilan anak-anak daerah melalui Beasiswa Perintis Daerah. Tahun ini, sebanyak 50 pemuda Kutim berhasil menembus berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ternama di Indonesia, mulai dari UI, UGM, IPB, Unpad, Universitas Brawijaya, hingga ITS.
“Ini anak muda Kutim, mudah-mudahan ke depan akan jadi penyangga untuk anak muda lainnya agar bisa ikut program Beasiswa Perintis Daerah. Supaya pembangunan di Kutai Timur bisa lebih maksimal lagi,” tuturnya.
Baca juga :Ā Tekan Angka ATS, Pemkab Kutim Wajibkan Perusahaan Terlibat dalam Pelaporan Anak Tidak Sekolah
Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi para petugas di lapangan, Disdikbud Kutim saat ini tengah merumuskan regulasi khusus terkait pemberian honorarium atau insentif bagi operator desa, pendamping, dan pamong belajar yang aktif mengawal program penuntasan ATS.
Menutup arahannya, Mulyono mengajak seluruh pihak menjadikan agenda ini sebagai gerakan kemanusiaan untuk menyelamatkan masa depan generasi muda di Kutai Timur. (Put/As-Adv)






