Tak Cuma Bagi Alat, Diskan Kutim Bangun Ekosistem Berkelanjutan demi Kesejahteraan Nelayan
Korsa.id, Sangatta – Peningkatan produksi sektor perikanan tidak lagi sebatas mengukur seberapa banyak tonase ikan yang berhasil ditangkap atau dipanen.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Pemkab Kutim) melalui Dinas Perikanan (Diskan) kini mengambil langkah terobosan dengan membangun ekosistem perikanan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, guna memastikan peningkatan produksi berbanding lurus dengan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya.
Langkah ini diambil mengingat keberhasilan sektor perikanan melibatkan mata rantai yang kompleks. Mulai dari kesiapan sarana melaut, ketersediaan bahan bakar, kualitas penanganan pascapanen, hingga akses pasar dan tata niaga yang adil.
Kepala Diskan Kutim, Yuliansyah, menegaskan bahwa komitmen pemerintah tidak berhenti pada pembagian bantuan fisik semata. Pemkab Kutim merancang pendekatan menyeluruh yang mencakup peningkatan keterampilan, penguatan kelompok usaha, pemanfaatan teknologi, penyediaan sarana produksi unggul, hingga pemangkasan alur distribusi pemasaran.
Baca juga :Ā Inflasi Ikan Laut Masih Tinggi, Dinas Perikanan Dorong Konsumsi Ikan Tawar untuk Jaga Ketahanan Pangan
Di sektor perikanan tangkap, bantuan fasilitas melaut diimbangi dengan edukasi keselamatan, teknik penangkapan efektif, serta penanganan pascapanen.
Penyediaan cool box, misalnya, menjadi aspek krusial untuk mempertahankan kesegaran ikan sejak diangkat dari air hingga tiba di tangan konsumen. Kesegaran yang terjaga secara langsung mengunci nilai jual komoditas di level optimal.
āKami tidak hanya memberikan bantuan sarana, tetapi bagaimana nelayan dan pembudidaya bisa meningkatkan produksinya. Nelayan dibantu dengan mesin kapal, alat tangkap, dan cool box. sementara pembudidaya didukung melalui benih unggul, pakan, sarana budi daya, dan pelatihan. Harapannya, usaha mereka semakin berkembang dan pendapatannya juga meningkat,ā ujar Yuliansyah saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (27/8/2026).
Namun, tantangan terbesar kerap muncul pada alur distribusi. Rantai pemasaran yang terlalu panjang sering kali menggerus keuntungan nelayan akibat dominasi tengkulak, sementara harga di tingkat konsumen akhir tetap membumbung tinggi.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, Diskan Kutim secara aktif memperkuat kelembagaan kelompok nelayan dan membenahkan jalur tata niaga. Pemkab berupaya memotong alur rantai pasok agar margin harga tidak melompat terlalu jauh.
āKami juga akan berupaya memangkas jalur distribusi ikan. Harapannya, selisih harga yang diterima nelayan dengan harga di pasar tidak terlalu besar. Nelayan mendapatkan harga yang lebih baik, sementara masyarakat juga bisa memperoleh ikan dengan harga yang terjangkau,ā tutur Yuliansyah.
Melalui penguatan ekosistem berkelanjutan ini, Diskan Kutim optimistis dapat menciptakan iklim ekonomi daerah yang tangguh, di mana para pelaku usaha perikanan memperoleh kepastian harga yang layak dan masyarakat luas mendapatkan akses pangan bergizi dengan harga yang rasional. (Ek/As-Adv)






