HeadlinePemkab PPUPenajam Paser Utara

BPBD PPU Catat 454 Hektar Lahan Terdampak Karhutla

Korsa.id, Penajam – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mencatat total luasan lahan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mencapai 454,89 hektare akibat musim kemarau panjang yang dipicu fenomena El Nino. Hingga akhir September, tercatat sebanyak 188 kejadian karhutla melanda wilayah tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara, Nurlaila, menjelaskan bahwa rincian sebaran titik api tersebar secara merata di empat wilayah kecamatan.

Meski demikian, Kecamatan Penajam mencatatkan angka tertinggi dan menjadi wilayah yang paling dominan terdampak akibat musibah kebakaran ini.

“Kecamatan Penajam mendominasi dengan 100 titik kejadian karhutla dan luasan area terdampak mencapai 290,84 hektare. Sementara itu, di wilayah Kecamatan Babulu tercatat ada 46 titik kejadian kebakaran dengan luas lahan terbakar mencapai 60,37 hektare,” jelas Nurlaila, Senin (28/9/2026).

Lebih lanjut, Nurlaila membeberkan data rinci untuk dua wilayah kecamatan lainnya. Di Kecamatan Sepaku, petugas mencatat terjadi 30 titik kebakaran dengan area yang hangus terbakar mencapai 80,09 hektare.

Baca juga : Atasi Dampak Kemarau Panjang, BPBD PPU Distribusikan Air Bersih ke Masyarakat

Sementara itu, Kecamatan Waru menjadi daerah dengan tingkat sebaran paling rendah, yakni 12 titik kebakaran yang menghanguskan lahan seluas 23,59 hektare.

Mengingat tingginya ancaman kebakarannya di tengah cuaca panas ekstrem, BPBD PPU bersama instansi terkait menerapkan sistem penanganan cepat.

Tim pemadam tidak pernah menunda tindakan atau menunggu hingga api mendekati area pemukiman warga untuk bertindak.

Petugas gabungan langsung bergerak cepat menuju lokasi begitu menerima laporan resmi dari masyarakat atau hasil pantauan sinyal satelit dari BMKG.

Baca juga : BPBD Kutim Gelar Upaya Deteksi Dini Bencana

Langkah responsif ini sangat krusial agar kobaran api tidak makin meluas dan merusak ekosistem lingkungan secara permanen.

Pengawasan intensif dan koordinasi lintas instansi pun terus ditingkatkan demi mengantisipasi munculnya titik api baru di area-area sensitif. (Aw/As-Adv)

Baca Juga

Back to top button