Kisah 40 Relawan Lintas Nusantara Membangun Asa di Pulau Miang

Korsa.id, Kutai Timur – Sebuah perjalanan yang melintasi ribuan kilometer, dari Lampung hingga Biak Papua, berujung pada sebuah perayaan semangat kebersamaan di timur Kalimantan. Selama delapan hari, dari 13 hingga 20 November 2025, 40 pemuda dari berbagai penjuru Indonesia bersatu dalam kegiatan Berani Berdampak#1 di Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur. Mereka menyulap desa pesisir ini menjadi laboratorium kolaborasi, pembelajaran, dan harapan.
Perjalanan para relawan menuju Pulau Miang sendiri sudah merupakan narasi inspiratif. Mereka Melewati jalur darat yang panjang, menembus hutan dan berlanjut dengan perjalanan laut, setiap kilometer menjadi ritual penguatan mental dan kebersamaan. Mereka bukan hanya membawa logistik, tetapi juga membangun kepercayaan dan semangat satu tujuan.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh masyarakat Miang, seolah menyambut sanak keluarga. Suasana pembukaan yang dihadiri Kepala Desa dan tokoh masyarakat dipenuhi tawa anak-anak dan atmosfer kekeluargaan yang kental, menjadi penanda bahwa kegiatan ini berakar pada hati.
Di bawah terpaan cuaca pesisir yang dinamis, semangat para relawan tidak pernah surut. Divisi Pendidikan bergerak cepat. Bukan hanya senam pagi yang membangun kedekatan, mereka juga menanamkan kesadaran ekologi melalui Investigasi Pesisir, mengajak anak-anak memahami pentingnya ekosistem laut yang mengelilingi rumah mereka.
Baca juga : Tahun depan, Bupati Kutim Rencana Agenda ini di Sangkulirang
SDN 4 Sangkulirang menjadi salah satu lokus program unggulan, Dimana anak-anak diajak membuat cerita dan ilustrasi berdasarkan pengalaman hidup mereka, mengubah kehidupan sehari-hari menjadi aset literasi. Program ini mengajarkan bahwa budaya lokal adalah sumber ilmu tak terbatas.
Aspek karakter juga disentuh melalui pengenalan empat kata Ajaib, tolong, maaf, terima kasih, dan permisi, sebagai fondasi etika. Sementara itu, kegiatan seperti Mini Scientist dan edukasi Gizi ‘Isi Piringku’ memberikan pemahaman praktis tentang sains dan kesehatan, membentuk generasi muda yang cerdas dan peduli.
Dampak nyata turut diukir melalui program pemberdayaan. Divisi Ekonomi Kreatif menjalankan pelatihan praktis: pembuatan amplang, Workshop Sambal Racci, hingga kerajinan kerang.
Pelatihan ini berorientasi pada kemandirian, memberikan bekal keterampilan bagi warga untuk membuka potensi ekonomi baru dari sumber daya lokal. Puncaknya, Seminar Ekraf mengenalkan strategi modern seperti QRIS, perizinan halal, dan strategi branding, membuka jendela peluang usaha rumahan yang terintegrasi dengan teknologi.
Divisi Kesehatan melayani masyarakat melalui skrining, pemeriksaan door-to-door, dan Kelas Ibu Hamil yang berfokus pada Gizi KIA. Program unik Dapur Bahari mengajarkan ibu-ibu menyusun menu sehat berbahan hasil laut lokal, mengubah cara pandang masyarakat terhadap panganan sehari-hari.
Tanggal 19 November menjadi hari yang paling berkesan. Perjalanan wisata edukatif ke Pulau Gusung menghadirkan momen spiritual yang tak terduga. Rombongan relawan disuguhi pemandangan langka kemunculan whale shark, pemandangan makhluk agung itu menjadi simbol keindahan alam Miang yang harus dijaga.
Malam harinya, Bazar UMKM menjadi wadah bagi pelaku usaha lokal, disusul dengan acara penutupan yang dihadiri langsung oleh Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman.
Dalam momen haru ini, relawan tidak hanya meninggalkan janji, melainkan warisan nyata, seperangkat alat kesehatan dan paket buku bacaan diserahkan sebagai simbol keberlanjutan program literasi dan layanan kesehatan dasar.
Pulangnya 40 relawan pada 20 November diiringi linangan air mata dan pelukan hangat warga. Bagi para relawan, perjalanan ini adalah transformasi mereka pulang dengan hati yang lebih penuh, pemahaman yang lebih luas, dan komitmen yang lebih kuat untuk terus Berani Berdampak di mana pun mereka berada.
Kegiatan ini membuktikan bahwa dampak sejati adalah hasil dari kolaborasi tulus lintas budaya dan disiplin ilmu. Pulau Miang kini memiliki semangat baru, didorong oleh pemuda-pemuda yang percaya bahwa kekuatan terbesar adalah memberi. (Rls/An)






