Merawat Identitas di Era Digital, Pemuda Desa Bangun Jaya Gelar Pentas Seni Budaya
Korsa.id, Sangatta – Suasana malam di Desa Bangun Jaya, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendadak riuh dan hangat pada Minggu (26/7/2026). Ratusan warga tumpah ruah menyaksikan Pertunjukan Seni Budaya yang digagas oleh komunitas Pemuda Rimba Bangun Jaya.
Pentas yang menyajikan ragam kesenian tradisional, termasuk pertunjukan memukau Tari Topeng Ireng khas Magelang, menjadi ruang perjumpaan lintas generasi di tengah gempuran modernisasi dan era digital.
Turut hadir dalam perhelatan tersebut Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman, Plt Camat Kaliorang Pitriani, jajaran Forkopimcam, Kepala Desa Bangun Jaya Supanjen, serta para tokoh masyarakat setempat.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menyampaikan apresiasi tinggi atas konsistensi Pemuda Rimba Bangun Jaya yang telah aktif menciptakan ruang kreatif kebudayaan sejak 2015. Menurutnya, kemajuan fisik daerah harus sejalan dengan pembinaan karakter dan nilai-nilai sosial.
Baca juga :Ā Selamat Ulang Tahun Bupati Kutim, Bpk Ardiansyah Sulaiman
“Anak-anak muda boleh mengikuti perkembangan zaman, menguasai teknologi, dan belajar dari budaya mana pun. Tetapi jangan sampai kita kehilangan jati diri. Nilai-nilai luhur seperti gotong royong, saling menghormati, sopan santun, dan cinta terhadap budaya sendiri harus tetap dijaga,” tegas Ardiansyah.
Ardiansyah menambahkan, proses panjang di balik layar pertunjukan seperti latihan disiplin, pembagian tugas, hingga kerja sama panggung merupakan sarana pendidikan karakter yang efektif untuk membentuk mentalitas generasi muda yang tangguh.
Ketua Pemuda Rimba Bangun Jaya, Zainal, mengungkapkan bahwa acara ini melibatkan 52 anggota komunitas serta bantuan warga desa. Proses persiapan yang memakan waktu hingga tiga bulan menjadi ajang perekat silaturahmi yang tak kalah penting dari malam pertunjukan itu sendiri.
“Kami ingin anak-anak muda tidak hanya mengenal budaya dari cerita atau media sosial, tetapi juga ikut merasakan, memainkan, dan melestarikannya. Yang kami bangun bukan hanya acara semalam, tetapi semangat kebersamaan,” kata Zainal.
Baca juga :Ā Mahyunadi Resmikan Pengembangan Kolam Ikan Air Tawar di Sangsel, Dorong Pemuda Jadi Motor Ekonomi Lokal
Pentas seni budaya di Desa Bangun Jaya ini juga membawa dampak positif multidimensi, mulai dari pemberdayaan UMKM, dimana kerumunan warga yang hadir menjadi ruang rezeki bagi para pedagang makanan dan pelaku usaha kecil di sekitar lokasi acara.
Serta menjadi ruang perekat multikultural, dimana kesenian berfungsi sebagai lingua franca yang menyatukan warga Kutim dari berbagai latar belakang suku dan budaya.
Dari panggung sederhana di Kecamatan Kaliorang ini, para pemuda desa membuktikan bahwa modernisasi tidak harus mengikis tradisi. Kemajuan zaman dan kearifan lokal justru bisa berjalan berdampingan saling menguatkan. (Put/As)






