Ketua IDI Kutim Sebut Stroke Masuk Jajaran Penyakit dengan Pembiayaan dan Risiko Tertinggi
Korsa.id, Sangatta – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kutai Timur menyoroti serius penanganan kasus stroke sebagai salah satu isu kesehatan utama di daerah.
Hal tersebut mengemuka dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) IDI ke-76 yang diisi dengan kegiatan Sangatta Symposium: Neuroscience Update di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutai Timur, Sabtu (24/10/2026).
Ketua IDI Kutim, dr. Fathurrahman, Sp.PA, menjelaskan bahwa fokus penguatan edukasi dan penanganan stroke pada momentum HUT IDI tahun ini didasari oleh dampak masif yang ditimbulkannya bagi pasien maupun sistem kesehatan.
“Stroke itu merupakan satu dari empat kelompok penyakit dengan pembiayaan yang besar, kemudian angka kematian tinggi, kemudian kecacatan-kecacatan tinggi, dan durasi terapinya kan lama,” ujar dr. Fathurrahman saat diwawancarai usai kegiatan simposium.
Baca juga : Pemkab Kutim Kucurkan Beasiswa Dokter dan Farmasi Bergaransi Ikatan Dinas
Menurutnya, berdasarkan tren nasional maupun regional, stroke konsisten berada di jajaran atas daftar penyakit dengan beban penanganan terberat. Urutan penyakit dengan kasus tertinggi saat ini didominasi oleh penyakit jantung pada posisi pertama, disusul ginjal, stroke pada urutan ketiga, serta kanker di posisi keempat.
“Jumlahnya ini akan selalu berubah-ubah urutannya, tapi yang jelasnya stroke itu enggak keluar dari lima besar,” tambahnya.
Mengingat karakteristik serangan stroke yang umumnya datang secara mendadak, dr. Fathurrahman mengimbau masyarakat agar mampu mengenali gejala dini guna mempercepat penanganan medis (golden period).
Ia memaparkan, ciri-ciri utama orang yang mengalami serangan stroke antara lain timbulnya kelumpuhan secara tiba-tiba seperti saat bangun tidur mendapati tangan kiri atau kanan tidak bisa digerakkan serta gangguan pada pola bicara.
Baca juga : RSUD Kudungga Siap Tangani Kasus Stroke dengan Dokter Spesialis Saraf dan Rehab Medik
“Cadel atau pelok,” sebutnya menggambarkan gangguan komunikasi yang kerap dialami pasien.
Sementara itu, dari sisi faktor pemicu, dr. Fathurrahman menyebutkan bahwa gaya hidup (lifestyle) memegang peranan yang sangat besar. Beberapa pemicu utama di antaranya adalah riwayat tekanan darah tinggi atau hipertensi menahun, serta penyakit kencing manis (diabetes).
Di sela-sela wawancara, dr. Fathurrahman turut menyinggung tren peningkatan juga terjadi pada kasus penyakit kanker di wilayah Kutai Timur. Meskipun tidak merinci data angka pasti secara akumulatif, ia mencatat adanya temuan kasus baru yang cukup signifikan setiap bulannya.
“Kalau dalam satu minggu itu mungkin ada sampai tiga sampai empat kejadian per bulan. Dan itu jenisnya beda, mulai dari payudara, serviks, banyak; limfoma, kolon atau usus. Karena kita sudah ada benjolan saraf banyak, ada juga tumor otak, kanker otak. Lumayan tinggi,” ungkap spesialis patologi anatomi tersebut.
Baca juga : Dinkes Kutim Laksanakan Pelayanan Kesehatan Bergerak, Bawa 3 Dokter Spesialis ke Karangan
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai gejala awal kanker sesuai jenisnya. Pada kasus kanker payudara, tanda yang kerap dijumpai berupa munculnya benjolan, sementara pada kanker serviks dapat berupa perdarahan tidak normal saat berhubungan atau keputihan yang berlangsung lama.
Melalui kegiatan ilmiah seperti simposium neurosains ini, IDI Kutim berharap kapasitas tenaga medis dan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan penyakit degeneratif maupun keganasan dapat terus ditingkatkan, begitu juga dengan kesiap siagaan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatannya.
“Kita harapkan bahwa pasien-pasien kita tertangani dengan lebih cepat, ada koordinasi yang baik antara fasilitas Puskesmas, rumah sakit swasta dan rumah sakit pemerintah. Karena layanan bedah saraf hanya ada di RSUD Kudungga, maka kita harapkan bagaimana pasien bisa sampai ke RSUD Kudungga dalam waktu secepat mungkin,” tambahnya.
Sangatta Symposium: Neuroscience Update, yang dibuka langsung oleh Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman itu, menghadirkan berbagai narasumber pakar mulai dari dr. Heryadi Bawono Putro, Sp. FM, Prof. Dr. Asra Al Fauzi, Sp.BS, Subsp. N-Vas(K), SE, MM, FICS, FACS, IFAANS, dr. Anthony Gunawan,Sp.N, FINA, dr. Abrar Arham, Sp.BS, Subsp.NVas(K), dr. Heru Kustono, MKed. Klin., Sp.BS, FIS., dr. Krisna Tsaniadi Prihastomo, Sp.BS, Prof. dr Muhammad Thohar Arifin, Ph.D, PAK, Sp.BS, Subsp.N-Vas(K) dan dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS, FMV. (Ek/As-Adv)


