“Rumput di Tanah Gersang Tumbuh Lebih Kuat”: Kisah Hidup Mulyono, Anak Transmigran Jadi Kadisdik Kutim

Korsa.id, Sangatta – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, Mulyono, berbagi kisah hidup yang sarat makna di hadapan para santri dalam kegiatan Talk Show Hari Santri di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kutim, Minggu (9/11/2025).
Dalam kesempatan itu, Mulyono menuturkan perjalanan hidupnya yang penuh perjuangan dari anak transmigran hingga kini memimpin sektor pendidikan di Kutai Timur.
“Saya ini anak transmigran. Orang tua saya petani yang ikut program transmigrasi ke Banjarmasin tahun 1974,” ujarnya membuka kisah.
Perjalanan keluarganya tak berhenti di situ. Tahun 1982, mereka kembali berpindah ke Tenggarong lewat jalur transmigrasi swakarsa mandiri sebuah pilihan yang penuh risiko dan kesederhanaan.
Kehidupan yang keras membuat Mulyono terbiasa berjuang sejak kecil. Ia bercerita, sang ibu harus menukar beras ke warung demi membayar uang sekolah. Sementara dirinya ikut membantu ekonomi keluarga dengan berjualan sayur dari sekolah dasar hingga SMA.
“Waktu SMP sampai SMA, saya keliling jualan sayur. Karena itu, teman-teman dulu memanggil saya ‘Pak Lek Sayur’,” kenangnya sambil tersenyum.
Baca Juga: Manasik Haji Akbar Jadi Momentum Bupati Kutim Gaungkan Wajib Belajar 13 Tahun
Pengalaman menjadi pedagang kecil itu membentuk sikap rendah hati dan empatinya hingga kini. “Makanya kalau ke pasar, saya enggak pernah menawar harga sayur. Saya tahu betul rasanya berdagang,” ucapnya.
Kerja keras dan kesederhanaan itu akhirnya berbuah manis. Setelah lulus SMA, Mulyono diterima di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Kini, buah dari perjuangan panjang itu tampak nyata kelima anaknya telah menjadi sarjana dan aparatur sipil negara, tiga di antaranya bahkan menduduki jabatan penting.
“Orang tua saya kini benar-benar jadi ratu,” katanya dengan bangga, mengenang ibunya yang hanya menamatkan pendidikan sampai kelas tiga SD, namun menjadi sumber kekuatan dan inspirasi dalam hidupnya.
Bagi Mulyono, kesulitan justru menjadi pupuk bagi keteguhan. Ia menutup kisahnya dengan filosofi hidup yang selalu ia pegang:
“Rumput yang tumbuh di tanah gersang punya akar yang jauh lebih kuat dibanding rumput di tanah subur. Artinya, orang yang terbiasa ditempa kesulitan akan lebih tangguh menghadapi hidup.”
Pesan itu pun ia sampaikan kepada para santri agar tidak gentar dengan keterbatasan. Karena dari tanah yang kering sekalipun, benih ketekunan tetap bisa tumbuh menjadi kekuatan.(Adv)






