BeritaDesaKutai Timur

Desa Swarga Bara Jadi Teladan Hidup Rukun di Tengah Perbedaan

Korsa.id, Sangatta – Desa Swarga Bara di Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), menjadi contoh nyata bahwa keberagaman bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang mempersatukan. Desa yang dihuni oleh beragam suku, agama, dan budaya ini berhasil membangun harmoni sosial yang kokoh di tengah kemajemukan warganya.

Kepala Desa Swarga Bara, Wahyuddin Usman, mengatakan bahwa sejak berdiri pada tahun 1999, wilayahnya kerap disebut sebagai “miniatur Indonesia”. Julukan itu, kata dia, bukan sekadar kiasan, melainkan cerminan dari kehidupan masyarakat yang penuh toleransi dan kebersamaan.

“Kalau bicara Swarga Bara, ini miniatur Indonesia. Semua suku ada di sini, dari Jawa, Makassar, Banjar, Bugis, dan lainnya. Tapi alhamdulillah, sejak terbentuk, tidak pernah ada konflik antarwarga,” ujar Wahyuddin saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (6/11/2025).

Ia menuturkan, perbedaan latar belakang justru menjadi kekuatan sosial yang membuat masyarakat saling menghargai dan bekerja sama tanpa memandang asal-usul maupun keyakinan.

“Di sini, kami terbiasa hidup berdampingan. Kalau ada kegiatan sosial atau keagamaan, semua ikut terlibat, saling bantu tanpa melihat perbedaan,” tambahnya.

Baca Juga: Jelang Purna Tugas, Kades Muara Dun Tegaskan Komitmen untuk Wujudkan Desa Mandiri

Keberagaman itu berpadu dengan dinamika ekonomi yang tinggi. Letak Desa Swarga Bara yang berdekatan dengan sejumlah perusahaan besar seperti PT Kaltim Prima Coal (KPC) menjadikan desa ini sebagai salah satu kawasan strategis dan berkembang di Kutim.

Namun, di tengah geliat pembangunan, Wahyuddin menegaskan bahwa kemajuan fisik tidak akan bermakna tanpa kerukunan dan rasa kekeluargaan yang menjadi fondasi utama kehidupan warga.

“Kami bangga dengan toleransi yang terjaga. Ini modal sosial yang membuat Swarga Bara tetap aman, nyaman, dan produktif,” katanya.

Untuk menjaga semangat kebersamaan itu, pemerintah desa secara rutin menggelar kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan lintas komunitas. Program-program tersebut dirancang agar seluruh lapisan masyarakat dapat berinteraksi, berkolaborasi, dan menumbuhkan rasa saling memiliki terhadap desa. “Kalau masyarakatnya rukun dan kompak, semua program pembangunan pasti berjalan dengan baik. Itu kuncinya,” pungkas Wahyuddin.

Dengan semangat gotong royong dan penghargaan terhadap perbedaan, Swarga Bara bukan hanya sekadar desa yang maju secara ekonomi, tetapi juga menjadi cerminan harmoni kebangsaan di tingkat akar rumput.(Adv)

Baca Juga

Back to top button