
Korsa.id, Samarinda – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur (Kaltim) terus berupaya melestarikan budaya lokal Benua Etam melalui olahraga. Seperti balap egrang, sumpit, gasing, ketepel dan balango. Budaya lokal ini masuk dalam kategori cabang olahraga (Cabor) tradisional dan rekreasi. Langkah konkret Dispora Kaltim itu dalam membumikan olahraga itu tidak hanya sebatas pelatihan dan pembinaan atlet serta kejuaraan saja. Namun telah di wacanakan dan tengah dikembangkan, untuk di dorong agar cabang olahraga tradisional tersebut bisa masuk ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah.
Informasi ini dikemukakan oleh Kepala Bidang 9Kabid) Pembudayaan Olahraga Dispora Kaltim, AA Bagus Surya Saputra Sugiarta. Diungkapkan Bagus, bahwa pihaknya saat ini tengah mengkaji berbagai kemungkinan. Agar olahraga tradisional bisa diintegrasikan ke dalam sistem pendidikan. Sehingga dalm pelestarian budaya lokal pada generasi penerus putra daerah bisa terus berjalan. Dengan begitu mereka bisa lebih mengenal kebudayaanya sendiri di daerah.
“Kami terus mempelajari ini. Bagaimana agar ada salah satu cabang olahraga tradisional yang bisa masuk ke dalam kurikulum pembelajaran. Kami tentunya tidak bisa sendirian, dan perlu pandangan dari instansi yang bergerak di bidang pendidikan,” jelas Bagus Senin (16/06/2025).
Bagus juga menyampaikan, bahwa pihaknya punya harapan besar. aAgar olahraga tradisional yang dibinanya dapat menjadi bagian dari pelajaran formal. Minimal setidaknya bisa masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah-sekolah yang ada di Kaltim. Agar mereka lebih mencintai budaya daerahnya yang sangat bagus dan diakui daerah lain itu, karena dikenalkan sejak dini. Dengan begitu kedepannya mereka bisa menjadi penerus atlet di berbagai Cabor Tradisional dan rekreasi tersebut.
“Wacananya memang keinginan kami untuk dimasukkan. Syukur kalau bisa masuk ke pelajaran formal atau bisa masuk ke dalam ekstrakurikulernya. Memang ini masih tahap pengkajian dan perlu kolaborasi semua pihak,” urai Bagus mewakili Kepala Dispor Kaltim, Agus Hari Kesuam (AHK).
Bagus juga membeberkan, upaya itu menurut pihaknya memang perlu adanhya penyesuaian. Terutama mengenai regulasi dan sinergi lintas sektor. Dalam hal ini adalah dengan Dinas Pendidikan (Disdik). Sehingga jika memang masuk, program tersebut sesuai dengan pengajaran yang berlaku di sekolah. Contohnya tidak bertabrakan dengan pelajaran lainnya, atau tidak membuat para murid terbebani dengan adanya pelajaran baru.
“Kami terus mempelajari regulasinya bagaimana. Kami juga terus berkoordinasi dengan Disdik. Bagaimana caranya, agar olahraga tradisional ini bisa masuk dalam pembelajran di sekolah,” urai Bagus.
Bagus juga mengungkapkan, hambatan dan kendala lain saat pelajaran olahraga tradisional ini masuk ke lingkungan sekolah. Selain merubah pengatujan jadwal pengajaran yang sudah pakem, juga mengenai gurunya yang mengajar. Jadi guru pelajaran olahraga tradisonal ini, juga memang harus disiapkan oleh pihak sekolah atau Disdik. Namun pihaknya siap menfasilitasi tenaga yang terlatih dari Dispora, untuk melakukan pengajaran olahraga tradisional di sekolah jika diperlukan.
Meski menyadari tantangan yang dihadapi cukup kompleks, Bagus menegaskan. Bahwa semangat untuk memperjuangkan pelestarian budaya melalui pendidikan tetap akan dijalankan. Karena dengan semangat dan kemauan keras, dipastikan oleh pihaknya akan ada solusi dan jalan keluar. Karena tujuan utama untuk menvcetak atlet daerah yang bisa mengharumkan Kaltim melaui bidang olahraga.
“Meski sulit, tetap kami coba cari tahu. Karena ini prospek yang bagus untuk melestarikan budaya kita. Sehingga kedepan regenari atlet bidang olahraga tradisional dan rekreasi di Kaltim bisa terus berlangsung,” pungkas Bagus. (Adv)






