Titik Hotspot Karhutla di Kutim Mulai Berkurang, BPBD Perketat Patroli
Korsa.id, Sangatta – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mencatat adanya penurunan jumlah titik panas (hotspot) seiring dengan upaya penanganan dan kolaborasi lintas sektor yang terus diperkuat di lapangan.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kutim, Sulastin, mengungkapkan bahwa jumlah titik panas mengalami penurunan signifikan dari malam sebelumnya.
“Alhamdulillah, kalau enggak ini titik hotspot mulai berkurang. Dari 57 titik, tadi malam saya cek menjadi 49. Jadi, biasanya kan setiap kecamatan itu ada 2 sampai 3, sekarang sisa 1,” ujar Sulastin saat ditemui usai sholat Istisqo.
Menurutnya, titik panas yang sempat terpantau di Sangatta Utara berhasil diatasi berkat kerja sama yang baik antara warga dan pemerintah tingkat desa. Meski demikian, ia mencatat bahwa sejumlah wilayah dengan aktivitas pertambangan, seperti kawasan Sangatta Utara, Bengalon dan Rantau Pulung kerap mendominasi kemunculan titik api.
Baca juga : El Nino Melanda, Bupati Kutim Minta Camat dan Kades Waspada Karhutla di Wilayahnya
“Daerah tambang itu, titik hotspot itu walaupun belum ada El Nino sudah ada memang gitu loh, karena tambang itu. Ditambah El Nino, ya semakin banyak,” tambahnya.
Siagakan Personil 24 Jam Dalam rangka mengantisipasi perluasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), BPBD Kutim terus menyiagakan personel gabungan, termasuk dari unsur Brigif dan Yonif, yang berjaga selama 24 jam di kantor BPBD.
“Jadi, ada 30 personel itu kita pokoknya 24 jam. Setiap ada kejadian, atau tidak, mereka patroli. Patroli, lihat takut ada titik-titik api kan,” jelas Sulastin.
Langkah cepat ini dinilai efektif menjadikan penanganan karhutla di Kutim cukup terkendali. Pihaknya juga mengapresiasi peran media yang aktif memberikan informasi sehingga masyarakat dapat bekerja sama dengan baik.
Baca juga : Cegah Bencana Ekologis, Mahyunadi Tegaskan Tidak Ada Toleransi Bagi Pelaku Karhutla
Selain fokus pada penanganan titik api, BPBD Kutim juga memantau dampak kekeringan yang mulai dirasakan masyarakat di beberapa wilayah. Salah satunya terjadi di Desa Muara Bengalon, Kecamatan Bengalon, di mana sumber air warga mulai menyusut akibat kondisi geografis dan lingkungan sekitar.
Meski demikian, kepala desa setempat dinilai sigap melakukan berbagai terobosan kreatif, seperti penyambungan selang air jarak jauh untuk membantu warga.
Sebagai langkah lanjutan, BPBD Kutim telah menggelar koordinasi virtual (zoom) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kodam, dan Polda untuk menginventarisasi kebutuhan darurat di lapangan.
“Hari ini kita kirim, kita layangkan secara tertulis. Mudah-mudahan segera direalisasikan,” ujar Sulastin.
Menanggapi kebutuhan helikopter untuk water bombing, Sulastin menilai pihak pusat tentu memiliki skala prioritas berdasarkan tingkat urgensi daerah. Berdasarkan data, luas area terdampak di Kutim sekitar 143 hektare masih berada di bawah angka beberapa kabupaten lain yang mencatatkan eskalasi lebih tinggi.
BPBD Kutim mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan potensi titik api demi menjaga keselamatan lingkungan bersama. (Ek/As-Adv)






