Berita

Lomba Gasing dan Belogo Ramaikan Erau Kutim, Peluang Kembangkan Wisata Budaya

Korsa.id, Sangatta – Gasing dan belogo menjadi salah satu daya tarik dalam pelaksanaan Erau Adat Pelas Benua Kutai Timur (Kutim) 2026. Permainan yang lekat dengan kehidupan masyarakat sejak dahulu itu kembali mendapat ruang di tengah perkembangan zaman, sekaligus membuka peluang untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya.

Kehadiran permainan tradisional tersebut mendapat perhatian dari masyarakat yang mengikuti rangkaian kegiatan Erau. Selain menghadirkan hiburan, perlombaan ini juga menjadi cara untuk mengenalkan kembali warisan budaya lokal kepada generasi muda.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim, Basuki Isnawan, mengatakan permainan tradisional sengaja dihadirkan untuk menambah semarak perayaan Erau Adat Pelas Benua tahun ini.

Menurutnya, kegiatan semacam ini layak dipertahankan karena memiliki potensi untuk menarik minat masyarakat yang lebih luas, termasuk pengunjung dari luar Kutim.

“Kita harapkan tahun depan kegiatan serupa tetap ditampilkan. Jika memungkinkan, permainan dan perlombaan tradisional diperbanyak lagi,” harap Basuki.

Ia menilai, apabila dikemas secara menarik dan dilaksanakan secara berkelanjutan, Erau Adat Pelas Benua tidak hanya menjadi agenda pelestarian adat, tetapi juga berpotensi berkembang sebagai destinasi wisata.

Karena itu, Basuki mendorong adanya kerja sama antara pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat agar berbagai kegiatan budaya tradisional dapat terus dihidupkan.

“Kita harapkan kolaborasi antar pihak, baik instansi pemerintah maupun swasta serta masyarakat, bisa menghidupkan budaya tradisional ini untuk terus dilestarikan dan dikembangkan. Bahkan bisa menjadi daya tarik pariwisata ke depannya,” ujar Basuki.

Dalam pelaksanaan Erau tahun ini, gasing dan belogo menjadi dua permainan yang diperlombakan. Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan tersebut, dengan total tercatat sebanyak 80 peserta.

Ketua Panitia Lomba Tradisional, Iwan, mengatakan perlombaan ini menjadi salah satu upaya untuk menjaga agar permainan tradisional tidak tersisih oleh perkembangan teknologi dan perubahan pola hiburan masyarakat.

Menurutnya, tingginya partisipasi peserta menjadi modal positif untuk mempertahankan keberadaan permainan tradisional agar tetap dikenal dan dimainkan oleh generasi berikutnya.

“Jika dilihat dari jumlah peserta yang cukup banyak ini, permainan tradisional bisa terus Lestari dan berkembang. Kita harapkan tahun depan bisa lebih meriah lagi lomba dan kegiatannya,” ujarnya.

Lebih dari sekadar kompetisi, perlombaan tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan mempererat tali silaturahmi. Permainan tradisional dapat dinikmati oleh berbagai kelompok usia, sehingga membuka kesempatan bagi generasi tua dan muda untuk berinteraksi melalui kegiatan budaya yang sama.

Melalui kegiatan ini, Erau Adat Pelas Benua Kutim diharapkan tidak hanya menjadi perayaan adat tahunan, tetapi juga menjadi sarana menjaga identitas budaya daerah. Jika terus dikembangkan dengan dukungan berbagai pihak, permainan tradisional seperti gasing dan belogo berpeluang menjadi bagian dari daya tarik wisata budaya Kutai Timur.(Put/Ak/As)

Baca Juga

Back to top button