
Korsa.id, Samarinda – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) terus memperkuat perhatian pada pembinaan atlet disabilitas. Langkah terbaru yakni rencana pendirian Sekolah Khusus Olahragawan Disabilitas Indonesia (SKODI), sebuah inisiatif strategis untuk mencetak atlet difabel berprestasi dan mewujudkan kesetaraan di dunia olahraga.
Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Kaltim, AA Bagus Surya Saputra Sugiarta, mengatakan pendirian SKODI sejalan dengan visi Presiden RI Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya perhatian yang sama terhadap seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang kondisi fisik.
“Tujuan utama SKODI ini adalah mencetak atlet disabilitas berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. Modelnya terinspirasi dari SKODI Solo yang sudah terbukti sukses menjadi barometer pembinaan olahraga disabilitas di Indonesia,” ujar Bagus di Kantor Dispora Kaltim, Gedung Kadrie Oening Tower, Samarinda.
Menurut Bagus, kehadiran SKODI Kaltim sangat mendesak mengingat jumlah atlet difabel di bawah naungan NPCI Kaltim mencapai lebih dari 300 orang. Apalagi, pada ajang Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) XVII 2024 di Solo, kontingen Kaltim berhasil menorehkan prestasi dengan meraih 38 medali dan naik ke peringkat 13 dari 35 provinsi se-Indonesia.
“Kaltim sudah memiliki Sekolah Khusus Olahragawan Indonesia (SKOI) sejak 2011. Kini saatnya kami mengembangkan sekolah khusus difabel. SKODI akan menjadi wadah pembinaan yang sistematis, terstruktur, dan inklusif,” jelasnya.
Dispora menegaskan, program ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kaltim, yang memprioritaskan pengembangan atlet disabilitas berbasis kesetaraan. Nantinya, SKODI tidak hanya berfokus pada pelatihan olahraga, tetapi juga menjadi wahana pendidikan yang ramah disabilitas.
“Semua orang berhak mendapat kesempatan yang sama. Dengan SKODI, atlet difabel bisa berkembang sesuai bakat dan minatnya, sambil mengakses pendidikan yang layak,” tegas Bagus.
Untuk mewujudkan program ini, Dispora akan berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari NPCI Kaltim, sekolah luar biasa (SLB), komunitas difabel, hingga lembaga pendidikan. Bagus optimistis dukungan pemerintah dan masyarakat akan mempercepat realisasi SKODI sebagai pusat pembinaan atlet disabilitas di Kaltim.
“Kami ingin menjadikan Kaltim sebagai pusat pengembangan atlet disabilitas di Indonesia. SKODI bukan sekadar sekolah olahraga, tetapi simbol kesetaraan dan komitmen nyata terhadap prestasi atlet difabel,” pungkas Bagus.(Adv)






