DesaEntertainmentKutai TimurRagam

Petrus Ivung Tegaskan Festival UFAH sebagai Ruang Pelestarian Tradisi

Korsa.id, Sangatta – Perhelatan Festival UFAH 2026 di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, kembali menyedot perhatian publik. Salah satu atraksi paling dinanti adalah lomba perahu tradisional yang melintasi derasnya Sungai Ufah (Sungai Bahau).

Camat Kongbeng, Petrus Ivung, menegaskan bahwa Festival UFAH memiliki kekhasan tersendiri karena berfokus penuh pada pemeliharaan identitas dan warisan budaya lokal.

Pelaksanaan festival kebudayaan ini turut dihadiri langsung oleh Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman, Wakil Bupati Mahyunadi, Ketua TP PKK Kutim Siti Robiah Ardiansyah, serta jajaran Forkopimda pada Minggu (9/8/2026).

Camat Kombeng, Petrus Ivung, menjelaskan bahwa Festival UFAH dipadukan dengan momentum pesta panen adat serta perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Desa Miau Baru. Berbeda dari perayaan olahraga modern pada umumnya, festival ini secara spesifik mengangkat permainan tradisional warisan leluhur.

ā€œFestival UFAH lebih mengarah kepada budaya. Jadi lomba-lomba yang diadakan adalah lomba tradisional,ā€ tegas Petrus Ivung.

Baca juga :Ā Ini Rencana Pemindahan Pusat Pemerintahan Kecamatan Kongbeng

Petrus mengungkapkan, lomba perahu tradisional di Sungai Ufah ini telah memasuki penyelenggaraan yang ketiga kalinya. Meski pelaksanaan tahun ini dibatasi empat perahu untuk kategori putra akibat penyesuaian durasi festival yang berakhir pada 12 Agustus 2026, antusiasme warga dan keunikan fisik perahu tetap menjadi magnet utama.

Karakteristik perahu yang digunakan sangat autentik dan mempertahankan sifat tradisionalnya. Perahu dibuat sendiri secara swadaya oleh warga tiap RT sehingga ukurannya bervariasi, bahkan beberapa perahu dari RT 1, RT 3, dan RT 7 memiliki panjang mencapai lebih dari 20 meter.

Dimana satu unit perahu tradisional raksasa ini mampu memuat sedikitnya 29 hingga puluhan pendayung sekaligus. Karena dilaksanakan pada musim kemarau, panitia dan peserta harus memandu perahu hingga 300 meter ke arah hilir untuk menghindari tumpukan kayu sebelum dilepas menuju garis perlintasan lomba.

Baca juga :Ā Kharisma Event Nusantar Melalui Budaya Lom Plai Wehea

Dipusatkan di kawasan Taman Desa dan Lamin Aruq, Festival UFAH tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan rakyat, tetapi juga jembatan pemersatu antara tokoh adat, pemerintah, dan generasi muda.

Melalui sinergi antara pesta panen, perlombaan olahraga tradisional, dan dukungan Pemkab Kutim, Petrus Ivung berharap kebudayaan masyarakat Miau Baru tidak sekadar menjadi cerita sejarah, melainkan tetap hidup dan terus diwariskan secara turun-temurun. (Sy/As-Adv)

Baca Juga

Back to top button