Penjaga Samudra Tanjung Mangkalihat Pimpin Kompi Gabungan HUT ke-81 RI
Korsa.id, Sangatta – Matahari Pagi di Bukit Pelangi memancar terik menyinari Lapangan Kantor Bupati Kutai Timur, Senin (17/8/2026). Di tengah heningnya ribuan peserta upacara yang bersiap menyambut Detik-Detik Proklamasi pada Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia, sebuah suara lantang dan menggelegar memecah kesunyian, memberi komando dengan presisi sempurna.
Sosok di balik ketegasan tersebut adalah Kapten Laut (P) Sarifudin Slamet. Perwira TNI Angkatan Laut yang sehari-hari menjabat sebagai Komandan Pos TNI AL (Danposal) Tanjung Mangkalihat, Lanal Sangatta ini dipercaya mengemban amanah besar sebagai Komandan Kompi Gabungan.
Bagi sang penjaga gerbang samudra terluar Kutai Timur ini, berdiri tegak mengomandoi pasukan gabungan di momentum sakral delapan dasawarsa lebih satu tahun kemerdekaan bangsa bukanlah sekadar tugas protokoler biasa melainkan ujian kehormatan, dedikasi, dan ketahanan jiwa seorang prajurit.
Pria kelahiran Palembang, 28 Oktober 1981, yang merupakan jebolan Pendidikan Pembentukan Perwira (Diktukpa) 2018 ini tak mampu menyembunyikan rasa haru dan bangganya usai sukses mengawal jalannya upacara hingga akhir.
Menjaga wilayah perairan Tanjung Mangkalihat di Kecamatan Sandaran yang berhadapan langsung dengan lintasan laut lepas membutuhkan kesiapan mental tanpa kompromi. Karakter kuat itulah yang dibawanya hingga ke Lapangan Bukit Pelangi.
Baca juga :Ā Memimpin dari Pinggiran: Kepemimpinan dan Pelayanan Publik di Daerah 3T
“Sebelumnya saya ucapkan Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Semoga tahun ini bangsa kita jauh lebih baik, tetap semangat, damai, dan sentosa. Dipercaya memimpin kompi di momen nasional sebesar ini adalah kebanggaan yang tak ternilai,” ujar Kapten Sarifudin dengan suara mantap dan tatapan tajam khas prajurit bahari.
Kehadirannya di mimbar upacara kabupaten juga membawa misi emosional. Ia merasa berdiri di sana tidak hanya membawa nama Lanal Sangatta, melainkan mewakili keteguhan masyarakat pesisir di pelosok Kutai Timur.
“Saya hadir mewakili TNI AL, Lanal Sangatta, dan secara khusus membawa nama masyarakat Desa Tanjung Mangkalihat, Kecamatan Sandaran,” tambahnya penuh haru.
Dibutuhkan postur tubuh yang kokoh dan ketahanan fisik prima untuk berdiri jam-jaman di bawah sengatan matahari tanpa setitik pun kelalaian gerakan. Kapten Sarifudin mengungkapkan, tidak ada resep rahasia selain disiplin membakar fisik yang sudah menyatu dalam urat nadi prajurit.
“Sebagai prajurit yang memegang teguh Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, membina fisik itu makanan sehari-hari. Terlebih ketika dihadapkan pada momen nasional seperti ini, kesiapan fisik dan mental harus seratus persen,” tegasnya.
Baca juga :Ā Pria yang Melompat ke Laut Sangkulirang Ditemukan Meninggal
Di balik ketegasannya berseragam dinas, Kapten Sarifudin menyimpan harapan besar pada pundak generasi muda Indonesia. Di akhir perbincangan, penjaga batas laut Bumi Etam ini memberikan wejangan menyentuh hati agar pemuda tidak melupakan tumpah darah para pahlawan.
“Pesan saya untuk generasi penerus: jangan pernah padamkan api perjuangan. Para pahlawan telah mengorbankan segalanya untuk merebut kemerdekaan ini. Tugas kita hari ini sederhana namun berat, yaitu mempertahankan kemerdekaan tersebut dan mengisinya dengan kerja keras,” pungkas sang Kapten penuh penekanan.
Aksi memukau Kapten Laut (P) Sarifudin Slamet dalam memimpin Kompi Gabungan menjadi bukti nyata bahwa benteng pertahanan Indonesia, baik di batas samudra terluar maupun di pusat seremoni daerah diampu oleh prajurit-prajurit tangguh yang siap menjaga kedaulatan NKRI hingga titik darah penghabisan. (Ek/As)


